Ads 468x60px

.
Tampilkan postingan dengan label Sosial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sosial. Tampilkan semua postingan

Senin, 16 April 2012

Fun Bike, Adventur dan Bakti Sosial Sejuta Kawan

Salah satu program PBC yaitu menjalin kemitraan/kerjasama  dengan semua unsur baik instansi, dunia usaha, maupun masyarakat hal ini telah dilaksanakan melalui kegiatan Fun Bike dan Bakti Sosial sejuta kawan yang dilaksanakan pada tanggal 15 April 2012 yang  bertujuan untuk mensosialisasikan keberadaan PBC dan meningkatkan kerjasama PBC dengan semua pihak teutama dengan instansi, para goweser yang berada di Wilayah Priangan.

Selain itu kegiatan Fun Bike dan Bakti Sosial ini merupakan salah satu program yang telah ditetapkan PBC berdasarkan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga PBC yaitu menjalin kemitraan PBC dengan sumber potensi,  yang dalam hal ini ada PBC menjalin kerjasama dengan kepolisian yaitu Polsek Ciawi. Dimana Polsek Ciawi memiliki persamaan dalam hal gerakan olah raga bersepeda dari persamaan tersebut tercipta salah satu kegiatan Fun Bike dan Bakti Sosial Sejuta Kawan.

Dalam pelaksanaanya kegiatan Fun Bike dan Bakti Sosial ini terbagi menjadi dua rute yaitu rute untuk pecinta adventure dan rute pecinta fun bike kegiatan tersebut di ikuti oleh para peserta dari priangan timur diantaranya dari Bandung yang diwakili Bringgowez, dari Banjar diwakili Exiss Kota Banjar, dari Garut, Ciamis, Majalengka, Kota Tasikmalaya dan Kabupaten Tasikmalaya dengan jumlah peserta mencapai kurang lebih 800 orang.

Selain kegiatan Fun Bike dan Bakti Sosial juga dilaksanakan kegiatan bakti sosial berupa penyantunan bagi lanjut usia berupa pemberian sembako bagi 40 peserta hal ini dilaksanakan sebagai bentuk kepedulian sosial bagi masyarakat yang berada di lingkungan PBC dan Polsek Ciawi.
Peserta bakti sosial ini diambil dari 6 desa yang berada di Kecamatan Ciawi Kabupaten Tasikmalaya.

Kegiatan Fun Bike dan Bakti Sosial dihadiri dan sekaligus memberikan sambutan oleh Bpk Bupati Tasikmalaya, Bpk Kapolres Tasikmalaya, Untuk bendera start dimulainya kegiatan Fun Bike dan Bakti Sosial oleh Komandan Korem 062/Garut.



























Salam PBC

readmore »»  

Selasa, 29 November 2011

Seorang Bapak Tua Penjual Amplop


Setiap menuju ke Masjid Salman ITB untuk shalat Jumat saya selalu melihat seorang bapak tua yang duduk terpekur di depan dagangannya. Dia menjual kertas amplop yang sudah dibungkus di dalam plastik. Sepintas barang jualannya itu terasa “aneh” di antara pedagang lain yang memenuhi pasar kaget di seputaran Jalan Ganesha setiap hari Jumat. Pedagang di pasar kaget umumnya berjualan makanan, pakaian, DVD bajakan, barang mainan anak, sepatu dan barang-barang asesori lainnya. Tentu agak aneh dia “nyempil” sendiri menjual amplop, barang yang tidak terlalu dibutuhkan pada zaman yang serba elektronis seperti saat ini. Masa kejayaan pengiriman surat secara konvensional sudah berlalu, namun bapak itu tetap menjual amplop.

Mungkin bapak itu tidak mengikuti perkembangan zaman, apalagi perkembangan teknologi informasi yang serba cepat dan instan, sehingga dia pikir masih ada orang yang membutuhkan amplop untuk berkirim surat.

Kehadiran bapak tua dengan dagangannya yang tidak laku-laku itu menimbulkan rasa iba. Siapa sih yang mau membeli amplopnya itu? Tidak satupun orang yang lewat menuju masjid tertarik untuk membelinya. Lalu lalang orang yang bergegas menuju masjid Salman seolah tidak mempedulikan kehadiran bapak tua itu.

Kemarin ketika hendak shalat Jumat di Salman saya melihat bapak tua itu lagi sedang duduk terpekur. Saya sudah berjanji akan membeli amplopnya itu usai shalat, meskipun sebenarnya saya tidak terlalu membutuhkan benda tersebut. Yach, sekedar ingin membantu bapak itu melariskan dagangannya. Seusai shalat Jumat dan hendak kembali ke kantor, saya menghampiri bapak tadi. Saya tanya berapa harga amplopnya dalam satu bungkus plastik itu. “Seribu”, jawabnya dengan suara lirih. Oh Tuhan, harga sebungkus amplop yang isinnya sepuluh lembar itu hanya seribu rupiah? Uang sebesar itu hanya cukup untuk membeli dua gorengan bala-bala pada pedagang gorengan di dekatnya. Uang seribu rupiah yang tidak terlalu berarti bagi kita, tetapi bagi bapak tua itu sangatlah berarti. Saya tercekat dan berusaha menahan air mata keharuan mendengar harga yang sangat murah itu. “Saya beli ya pak, sepuluh bungkus”, kata saya.

Bapak itu terlihat gembira karena saya membeli amplopnya dalam jumlah banyak. Dia memasukkan sepuluh bungkus amplop yang isinya sepuluh lembar perbungkusnya ke dalam bekas kotak amplop. Tangannya terlihat bergetar ketika memasukkan bungkusan amplop ke dalam kotak.


Saya bertanya kembali kenapa dia menjual amplop semurah itu. Padahal kalau kita membeli amplop di warung tidak mungkin dapat seratus rupiah satu. Dengan uang seribu mungkin hanya dapat lima buah amplop. Bapak itu menunjukkan kepada saya lembar kwitansi pembelian amplop di toko grosir. Tertulis di kwitansi itu nota pembelian 10 bungkus amplop surat senilai Rp7500. “Bapak cuma ambil sedikit”, lirihnya. Jadi, dia hanya mengambil keuntungan Rp250 untuk satu bungkus amplop yang isinya 10 lembar itu. Saya jadi terharu mendengar jawaban jujur si bapak tua. Jika pedagang nakal ‘menipu’ harga dengan menaikkan harga jual sehingga keuntungan berlipat-lipat, bapak tua itu hanya mengambil keuntungan yang tidak seberapa. Andaipun terjual sepuluh bungkus amplop saja keuntungannya tidak sampai untuk membeli nasi bungkus di pinggir jalan. Siapalah orang yang mau membeli amplop banyak-banyak pada zaman sekarang? Dalam sehari belum tentu laku sepuluh bungkus saja, apalagi untuk dua puluh bungkus amplop agar dapat membeli nasi.


Setelah selesai saya bayar Rp10.000 untuk sepuluh bungkus amplop, saya kembali menuju kantor. Tidak lupa saya selipkan sedikit uang lebih buat bapak tua itu untuk membeli makan siang. Si bapak tua menerima uang itu dengan tangan bergetar sambil mengucapkan terima kasih dengan suara hampir menangis. Saya segera bergegas pergi meninggalkannya karena mata ini sudah tidak tahan untuk meluruhkan air mata. Sambil berjalan saya teringat status seorang teman di fesbuk yang bunyinya begini:
“bapak-bapak tua menjajakan barang dagangan yang tak laku-laku, ibu-ibu tua yang duduk tepekur di depan warungnya yang selalu sepi. Carilah alasan-alasan untuk membeli barang-barang dari mereka, meski kita tidak membutuhkannya saat ini. Jangan selalu beli barang di mal-mal dan toko-toko yang nyaman dan lengkap...”.


Si bapak tua penjual amplop adalah salah satu dari mereka, yaitu para pedagang kaki lima yang barangnya tidak laku-laku. Cara paling mudah dan sederhana untuk membantu mereka adalah bukan memberi mereka uang, tetapi belilah jualan mereka atau pakailah jasa mereka. Meskipun barang-barang yang dijual oleh mereka sedikit lebih mahal daripada harga di mal dan toko, tetapi dengan membeli dagangan mereka insya Allah lebih banyak barokahnya, karena secara tidak langsung kita telah membantu kelangsungan usaha dan hidup mereka.
Dalam pandangan saya bapak tua itu lebih terhormat daripada pengemis yang berkeliaran di masjid Salman, meminta-minta kepada orang yang lewat. Para pengemis itu mengerahkan anak-anak untuk memancing iba para pejalan kaki. Tetapi si bapak tua tidak mau mengemis, ia tetap kukuh berjualan amplop yang keuntungannya tidak seberapa itu.
Di kantor saya amati lagi bungkusan amplop yang saya beli dari si bapak tua tadi. Mungkin benar saya tidak terlalu membutuhkan amplop surat itu saat ini, tetapi uang sepuluh ribu yang saya keluarkan tadi sangat dibutuhkan si bapak tua.


Kotak amplop yang berisi 10 bungkus amplop tadi saya simpan di sudut meja kerja. Siapa tahu nanti saya akan memerlukannya. Mungkin pada hari Jumat pekan-pekan selanjutnya saya akan melihat si bapak tua berjualan kembali di sana, duduk melamun di depan dagangannya yang tak laku-laku.


Sumber : rinaldimunir.wordpress.com (Judul asli: Bapak Tua Penjual Amplop Itu )


readmore »»  

Jumat, 11 November 2011

PBC dan POLSEK Ciawi Peduli Lingkungan

Dalam rangka meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan PBC dan Polsek Ciawi melaksanakan kegiatan penanaman pohon di sekitar daerah aliran Sungai Cikidang, kegiatan tersebut sebagai upaya pencegahan erosi dan abrasi yang disebabkan oleh geseran air Sungai Cikidang.
Sungai Cikidang merupakan salah satu sungai yang menampung aliran air dari sungai sungai kecil yang berada di daerah Kecamatan Ciawi dan Kecamatan Kadipaten sehingga pada musim hujan ini sangatlah riskan bagi lingkungan yang berada di sekitar aliran Sungai Cikidang, salah satunya Komplek Perumahan Puri Ciawi Kencana.

Atas dasar tersebut PBC dan Polsek Ciawi berinisiatif untuk melaksanakan penanaman pohon, penanaman pohon yang dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 5 Nopember 2011 pukul 15.00 WIB.

Dalam penanaman tersebut diwakili dari Polsek Ciawi diantaranya Bapak Endang, Bapak Edi, Bapak Wawan, dan lainnya, dari PBC yang diwakili hampir seluruh anggota terlibat untuk menanamkan pohon di sepanjang jalur Cikidang tepatnya dekat lapang volly ball.
Dengan antusiasnya anggota PBC seperti Bapak Edwan, Bapak Dede Samad Saripudin, Bapak Apin, Bapak Ryan, Bapak Engkus, Bapak Tatang, Bapak Sanu, Bapak Oom, Bapak Aka, dan anggota lainnya mereka menanamkan pohon untuk menjaga terjadinya erosi dan abrasi.

Adapun tujuan dari pelaksanaan kegiatan penanaman pohon yiatu:
  1. Mencegah terjadinya erosi dan abrasi yang diakibatkan derasnya air Sungai Cikidang.
  2. Meningkatkan kepedulian tehadap lingkungan hidup.
  3. Memanfaatkan lahan kosong menjadi lahan produktif.
PBC sebagai organisasi yang berada dilingkungan warga puri tidak hanya untuk kegiatan olahraga goes saja tetapi kehadiran PBC dapat mewarnai kegiatan kegiatan lain yang dilaksanakan dilingkungan perum puri sehingga kehadiran PBC dapat memberikan kontribusi bagi tercapainya pembangunan dan manfaat yang dirasakan oleh seluruh masyarakat.

 Salam PBC
readmore »»